SEJARAH MUNCULNYA ORIENTALISME
A. PENDAHULUAN
Secara pasti sulit menentukan kapan sebenarnya timbul orientalisme itu. Para ahli pun berbeda-beda pendapat mereka. Ada yang berpendapat bahwa timbulnya orientalisme itu adalah mempunyai ikatan waktu antara minat orang-orang Eropa dalam mempelajari kebudayaan Arab dan Islam di Eropa dengan ketamakan orang-orang Eropa sendiri hendak menguasai dunia Arab dan Islam pada akhir abad ke 18. Di saat kerajaan Turki Usmani menguasai sebagian besar negara-negara Arab dalam keadaan lemah.
Ada pula yang berpendapat dimulai dari serbuan ekspedisi Perancis ke Mesir pada tahun 1798. Pendapat ini dapat dikatakan adalah permulaan orientalisme yang sebenarnya dan positif. Hal ini terbukti ketika penyerbuan tersebut armadanya membawa para ahli pengetahuan, yang di tugaskan khusus untuk menyelidiki dan mempelajari bermacan-macam bidang ilmu pengtahuan khususnya tentang kebudayaan Timur.
Orientalisme memang dimulai sejak beberapa abad yang lalu yaitu pada abad ke 18 M. Tetapi dasar-dasar daripada Orientalisme itu sendiri telah tumbuh pada masa-masa Islam pertama, terutama pada saat jayanya Islam di Andalusia. Karena pada waktu itulah mahasiswa-mahasiswa Eropa mulai menyelidiki dan mempelajari tentang Islam dan kudayaan Timur. Disaat orang-orang Arab muslim menguasai semenanjung Liberia, yaitu Andalusia, sebagian negara Perancis, Itali, Cicilia dan beberapa pulau di laut Tengah.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Orientalisme
Orientalisme dalam kamus Bahasa Indonesia adalah ilmu pengetahuan tentang ketimuran atau tentang budaya ketimuran. Sementara itu dalam buku “Bubust Fi at Tabsyir Wa al Istisyraq” (Pembahasan Tentang Misionarisme dan Orientalisme) karangan Dr. Hasan Abdul Rauf, disebutkan bahwa kata “Orientalisme” secara umum diberikan kepada orang-orang non-Arab yang mempelajari ilmu-ilmu tentang ketimuran, baik itu dari segi bahasa, agama, sejarah, dan adat istiadatnya. Orang yang mempelajari ilmu itu disebut Orientalisme. Khususnya orang-orang yang mempelajari tentang dunia Arab, China, Persia, dan India.[1]
Orientalisme adalah suatu pengetahuan tentang perihal ketimuran yang penting kita ketahui. Karena karena di samping nila-niai positif yang terkandung di dalamnya juga terdapat nilai-nilai yang negatif. Nilai-nilai yang negatif itu merupakan racun berbisa dalam usaha melumpuhkan Islam dengan paham yang dapat menggoyahkan keimanan kaum muslimin terhadap Al-Qur’an, Rasul, Wahyu dan lain-lain.[2]
Secara bahasa orientalisme berasal dari kata “orient” yang artinya “timur”. Secara secara etnologis orientalisme bermakna “bangsa-bangsa timur”, dan secara geografis bermakna “hal-hal yang bersifat timur, yang sangat luas ruang lingkupnya.” Orang yang menekuni dunia ketimuran ini disebut orientalis. Menurut grand Larousse Encyclopedique seperi dikutip Amien Rais. Orientalis adalah sarjana yang menguasai masalah-masalah ketimuran, bahasa-bahasanya, kesusastraannya, dan sebagainya. Karena itu orientalisme dapat dikatakan merupakan semacam prinsip-prinsip tertentu yang menjadi ideologi ilmiah kaum orientalis.
Kata ”isme” menunjukkan pengertian tentang suatu paham. Jadi, orientalisme bermakna suatu paham atau aliran yag berkeinginan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa timur beserta lingkungannya.Menurut M.Amien Rais yang mengutip dari Grand Larousse Encyclopedique mendefinisikan orientalis sebagai “sarjana yang menguasai masalah-masalah ketimuran, bahasa-bahasanya, kesusastraannya, dan sebagainya” karena itu, orientalisme bisa dikatakan merupakan semacam prinsip-prinsip tertentu yang menjadi ideologi ilmiah kaum orientalis. Memang tidak ada salahnya sarjana-sarjana Barat mempelajari masalah-masalah ketimuran, termasuk masalah keislaman, asalkan penyelidikan mereka didasarkan kepada sendi-sendi imiah yang benar dan bertujuan untuk mencari kebenaran. Akan tetapi, tujuan asasi dunia Barat dengan orientalismenya itu adalah untuk menguasai dan menjajah Timur, walaupun mungkin saja disertai rasa ingin tahu tentang kebudayaan lain.[3]
Muslimdailydalam buku Ensiklopedi Islam, orientalisme didefiniskan sebagai pemahaman masalah-masalah ketimuran. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis, “orient” yang berarti timur atau bersifat timur. “Isme” berarti paham, ajaran, sikap atau cita-cita.
Secara analitis, orientalisme dibedakan atas: (1) keahlian mengenai wilayah timur (2) metodologi dalam mempelajari masalah ketimuran, dan (3) sikap ideologis terhadap masalah ketimuran, khususnya terhadap dunia Islam.
2. Awal Mula Orientalisme
Pembahasan tentang asal mula Orientalisme, sebenarnya masih menjadi persilisihan oleh para peneliti sejarah Orientalisme. Dan tidak diketahui secara pasti siapa orang Eropa pertama yang mempelajari tentang ketimuran dan juga tidak ada yang mencatat kapan terjadinya. Kemungkinan pendapat terbanyak, menurut Dr. Hasan Abdur Rauf bahwa Orientalisme dimulai dari Andalusia (Spanyol) di abad 17 H, ketika tekanan Kristen Spanyol kepada masyarakat Islam disana memuncak. Raja Alfonso penguasa Kristen di profinsi Castilla saat itu, memanggil Michael Scott untuk mempelajari ilmu-ilmu Islam dan peradabannya. Kemudian scott mengumpulkan sekelompok pendeta dari berbagai gereja dekat kota Toledo untuk membantu tugas-tugasnya.[4]
Pendapat lain mengatakan, Orientalisme dimulai ketika beberapa pendeta dari Barat datang ke Andalusia (Spanyol) saat kerajaan Islam itu berada dipuncak kejayaannya. Kemudian mereka mempelajari berbagai ilmu Islam disana. Menterjemahkan Al Qur’an dan buku-buku berbahasa Arab kedalam bahasa mereka, tak ketinggalan mereka juga berguru kapada para ulama-ulama Islam yang ada di Andalusia waktu itu dari berbagai disiplin ilmu. Khususnya ilmu Filsafat, Kedokteran, dan Matematika. Dua pendapat di atas sepertinya tidak banyak berbeda dan kita sepertinya tidak perlu terlalu jauh untuk mempermasalahkannya.
Adapun beberapa orang pendeta yang datang ke Andalusia saat itu, antara lain:
a. Gerbert, seorang pendeta dari Perancis atau lebih dikenal dengan gelar kepausannya, Sylvester II, yang terpilih menjadi Paus Roma pada tahun 999 M dan berkuasa sampai tahun 1003 M. Ia terpilih sekembali ke negaranya setelah belajar dari berbagai sekolah di Andalusia.
b. Pendeta Petrus yang mulia (1092-1156 M).
c. Pendeta Gerrad Kremmen (1114-1187 M).
Memasuki Abad ke-18 yang merupakan abad permulaan Barat menjajah negeri-negeri Islam dan menguasai sumber kakayaannya. Dengan jumlah ilmuan Barat yang tak sedikit, mereka menjadikan kajian tentang dunia Timur sebagai suatu keharusan. Di awal abad ke-19 saja tercatat ada sekitar 250.000 jilid buku, dan itu terus berlangsung sampai hari ini. Di penghujung abad ke-19 tepatnya tahun 1873 M, di Paris berlangsung muktamar pertama untuk para Orientalisme.
3. Sebab-Sebab Munculnya Orientalisme
Ada banyak hal yang menjadi penyebab lahirnya Orientalisme menurut para peneliti dunia ketimuran. Tetapi penting untuk kita ketahui kiranya adalah sebab-sebab utama dan faktor pendukung munculnya Orientalisme.
a. Faktor Agama.
Seperti yang telah di jelaskan di atas, bahwa Orientalisme dimulai dari pendeta-pendeta kemudian menjadi kelompok besar Orientalis, yang kesemuanya bertujuan untuk merusak eksistensi Agama Islam, mengaburkan otensitasnya dan memutarbalikan kebenarannya. Sambil terus meyakinkan kepada orang-orang yang mengikutinya bahwa Islam adalah agama yang jauh dari kemajuan, kotor, kasar, dan sumber teroris.[5]
Seperti yang telah di jelaskan di atas, bahwa Orientalisme dimulai dari pendeta-pendeta kemudian menjadi kelompok besar Orientalis, yang kesemuanya bertujuan untuk merusak eksistensi Agama Islam, mengaburkan otensitasnya dan memutarbalikan kebenarannya. Sambil terus meyakinkan kepada orang-orang yang mengikutinya bahwa Islam adalah agama yang jauh dari kemajuan, kotor, kasar, dan sumber teroris.[5]
Ketika Islam berkembang dengan pesatnya dan dalam masa satu abad kekuasaannya telah melintasi jazirah Arab. Afrika Utara dan sampai Spanyol serta negara-negara Eropa lainnya.[6]Sebelumnya orang-orang Eropa berprasangka buruk, bahwa orang Islam dan orang-orang Arab sangat kejam dan bengis. Penyiaran agama disebarkan dengan pedang dan dengan kekerasan. Sangkaan ini rupanya meleset. Orang-orang Islam dan Arab mempunyai akhlak yang tinggi dan mulia. Penuh keadilan dan teleransi terhadap pemeluk-pemeluk agama lain. Rakyat Spanyol yang beragama Kristen diberikan kebebasan memeluk agamanya. Walaupun negara tersebut telah dikuasai oleh orang-orang Arab.
Di antara kaum Orentalis yang terkemuka, pada generasi pertama dari perkembangan Orientalisme ialah: (1) Jebert de Oralic (938-1003), seorang pendeta Katolik yang pergi ke Andalusia dan belajar pada perguruan-perguruan tinggi Islam di Cevilla dan Cordova. Sehingga ia terkenal seorang yang pandai dalam bahasa Arab, ilmu pasti, dan ilmu falak. Kemudian ia diangkat menjadi Paus (999-1003) dan menjadi paus pertama dari bangsa Perancis. (2) Dicuil, namanya sangat gemilang dalam tahun 1125. Ia seorang Islandia, berkunjung ke Mesir. Menyelidiki tentang piramid dan keadaan keislaman di Mesir. (3) Pierre le Venerebble (1094-1156). Seorang pendeta Perancis. Ia ke Analusia menambahkan pengetahuannya. Kemudian ia kembali kenegerinya mengembangkan kebudayaan Arab. Dan menyusun buku-buku untuk menentang orang Islam dan Yahudi. (4) Danial of Morly. Mulanya ia belajar di Oxford dan Paris. Ia tidak merasa puas dengan universitas-universitas Barat. Lalu berangkat ke Andalusia. Namanya terkenal antara tahun 11170-1190. (5) Gerard de Cremona (1111-1187) pendeta Halia. Menuju ke Toledo Andalusia, untuk memperdalam bahasa Arab. Ia telah menyalin tidak kurang dari 87 buku bahasa Arab tentang falsafah, kestabilan, ilmu pasti, dan ilmu falak ke dalam bahasanya sendiri. Diantaranya, ia telah menyalin: Rasail Al-Kindi fil ‘aqli wal ma’qul, Ihshul ‘ulum karangan Al-Farabi dan Al-Qanun fifthib karangan Ibnu Sina. (6) Michael Scott dari pendeta Scotland dan lain-lain.[7]
b. Kolonialisme
Setelah kekalahan Barat yang menyakitkan di perang Salib, akan tetapi ternyata kebencian mereka pada umat ini tidak penah sirna. Mereka jadi berfikir dua kali, jika harus melawan Islam dengan kekuatan senjata. Lalu Kristen Barat pun merubah metode mereka untuk menaklukkan Islam dengan pemikiran atau yang biasa disebut dengan istilah ‘invansi pemikiran’.
Metode ini dilakukan atas wasiat Raja Louis dsri Perancis, pemimpin Nasrhani pada perang Salib ke delapan yang berakhir dengan kekalahan. Bahkan Raja Louis sendiri berhasil ditawan oleh pasukan Islam di provinsi Mansurah, Mesir. Untuk keluar dari tawanan itu Raja Louis harus membayar upeti yang sangat besar. Sekembalinya ke Perancis, Louis memiliki keyakinan bahwa kekuatan militer dan senjata terbukti tidak membuat Islam gentar.Maka dipelajarilah segala sesuatu yang berkaitan dengan negeri yang akan mereka taklukan, mulai dari agama, budaya sampai kekayaannya. Di sinilah kaum Intelektual Barat (Orientalis) berperan.
c. Faktor Politik
Setelah negeri-negeri yang terjajah di Timur merdeka dari cengkraman kolonialis, ada target lain yang menjadi incaran negara-negara penjajah yaitu meletakkan kedutaan atau konsulat-nya dibekas negara jajahannya. Tujuan dari itu adalah untuk memata-matai aktivitas politik negara tersebut lewat jasa intelejen yang mereka buat, dengan begitu memudahkan mereka untuk mengoalkan tujuan-tujuan politiknya semacam isu teroris dan penguasaan informasi. Sedangkan kaum Intelektualnya atas nama duta negara mempelajari agama dan kebudayaannya.
Dari sinilah mereka mempergunakan para Orientalisme untuk menyelidiki tentang keadaan negara-negara Timur baik berupa Agama, kebudayaan, ekonomi, politik dan lain-lain.Disamping itu, para pemuka-pemuka agama Kristen selalu menghasut rakyat Eropa untuk melepaskan Baitul Maqdis dari tangan kaum muslimin, dengan semboyan perang suci. Inilah diantara sebab-sebab penting yang menyebabkan terjadinya perang Salib 1 tahun 1096. [8] Negara-negara di Eropa bersatu untuk menyerang kaum muslimin di Jerussalam. Sebenarnya ini adalah perang penjajahan yang berkedok agama, mulanya bernama Holy War (Perang Suci) kemudian berubah menjadi Crusade (Perang Salib). Pada hakikatnya ini adalah jalan untuk kekerasan di atas Benua Timur Islam, dimana di sana terdapat kekayaan ekonomi dan hasil perdagangan yang tinggi.
d. Faktor Ekonomi
Dari sekian faktor yang ada, faktor ekonomi merupakan faktor yang paling kuat untuk melahirkan Orientalis. Karena dengan menguasai ilmu ketimuran lewat para cendekiawannya, Barat dengan mudah memiliki data kekayaan negei-negeri yang ada di Timur. Maka bukan hal aneh jika negara adidaya seperti Amerika begitu bernafsu menduduki negara-negara Timur dan Arab seperti Irak dan Afganistan. Selain faktor kekuasaan mereka menyimpan misi untuk menguasai kekayaan, tetapi sebenarnya tujuan yang lebih jauh dari itu adalah menguasai pasar dunia.[9]
e. Faktor Ilmu
Ilmu pengetahuan Islam hal utama yang dibidik para Orientalisme untuk mengusai umat ini. Jelas misi utama mereka mempelajari ilmu-ilmu Islam bukan untuk mencari kebenaran, tetapi memutar balikan fakta dan menghembuskan berbagai syubhat agar kaum muslimin ragu pada agamanya. Memang diantara para kaum Orientalis itu ada sebagian yang berfikir Obyektif tentang Islam dan ada beberapa orang yang akhirnya memeluk Islam. Beberapa karya Orientalis juga menyebar di negara-negara Timur Tengah dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, serta diizinkan oleh ulama setempat untuk dipelajari dengan tetap bersikap kritis. Seperti buku “Tarikh Mazahib at-Tafsir al-Islamy"(Sejarah Mazhab-Mazhab Tafsir) karangan Orientalis ternama, Goldziher.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa orang-orang Eropa sejak abad ke XI giat mempelajari bahasa Arab dan pengetahuan Islam serta peradabannya di Andalusia (Spanyol). Samapi sirna agama Islam dengan jatuhnya Granada tahun 1492. Setelah itu mereka berkisar ke negara-negara Timur.Memang banyak orang-orang Barat (Orientalis) yang memperdalam bahasa Arab dan kemudian menjadi orang yang ahli dalam bidang nahwu, sharaf, adab (sastra) dan balaghah, kemudian ada pula yang mempedalam di segi aqidah dan syari’ah.Tapi sangat disayangkan segala ilmu pengetahuan yang telah mereka peroleh, bukanlah untuk menimbulkan keyakinan mereka terhadap Islam tapi pada umumnya adalah dijadikan alat untuk memusuhi Islam sendiri dengan kedok selubung ilmiyah, scientific research. Karena perasaan iri hati, aqidah dan syari’ah Islam yang murni mereka bumbui dengan keterangan-keterangan yang bathil yaang dapat meragukan dan mengaburkan hakekat Islam itu sendiri. Sehingga kadang-kadang dapat menggoyahkan keyakinan umat Islam terhadap agamanya di satu pihak dan sifat antipati rakyat Eropa serta perasaan benci kepada Islam di lain pihak.
C. KESIMPULAN
Memasuki Abad ke-18 yang merupakan abad permulaan Barat menjajah negeri-negeri Islam dan menguasai sumber kakayaannya. Dengan jumlah ilmuan Barat yang tak sedikit, mereka menjadikan kajian tentang dunia Timur sebagai suatu keharusan.Di penghujung abad ke-19 tepatnya tahun 1873 M, di Paris berlangsung muktamar pertama untuk para Orientalisme.Bahwa dari sejarah orientalisme itu ada beberapa faktor yang mendorong munculnya orientalisme dan dimulai dari Perang Salib yang berawal dari konflik yang terjadi antara Islam-Kristen di Palestina (Jerussalem).
Abidin Ja’far. Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab. Yogyakarta: Bina Usaha, 1987.
Amien rais. Cakrawala Islam. Bandung: Mizan, 1996.
Muhammad Yasin, “Sejarah Orientalisme sebuah Pengenalan Singkat”, dalam majalah Media Dakwah. Jakarta: Media Dakwah, 2006), edisi 369.
[1] Muhammad Yasin, “Sejarah Orientalisme sebuah Pengenalan Singkat”, dalam majalah Media Dakwah, (Jakarta: Media Dakwah, 2006), edisi 369, hlm. 45.
[2] Abidin Ja’far, Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1987), hlm. 1.
[3]Amien Rais, Cakrawala islam, (Bandung: Nizam, 1996), hal. 234.
[4]Muhammad Yasin, “Sejarah Orientalisme sebuah Pengenalan Singkat”, hlm. 45.
[5] Muhammad Yasin, “Sejarah Orientalisme sebuah Pengenalan Singkat”, hlm. 46.
[6] Abidin Ja’far, Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1987), hlm. 10.
[7] Abidin Ja’far, Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1987), hlm. 12.
[8] Abidin Ja’far, Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1987), hlm. 15.
[9] Muhammad Yasin, “Sejarah Orientalisme sebuah Pengenalan Singkat”, hlm. 46.