Selasa, 26 Januari 2016

Kata Hati Princess tahun lalu



Jum’at, 20 Maret 2015
Aku tak pantas untuk kamu cintai

Di hari ini nggak ada kata- kata indah yang bisa ku rangkai. Mungkin ini salah ku, karna tidak pernah mendengarkan apa kata hati kecil ini. Kini aku benar- benar dilemma dengan perasaan yang tak pernah dan tak kan pernah terbalaskan. Aku sadar aku bukan seseorang yang berarti bagi mu. Tapi ntah mengapa aku pun tak sanggup jika harus melewati semua ini. Andai dari awal aku mendengarkan kata- kata mu untuk tidak berharap lebih, mungkin aku tak kan sesakit ini.
Namun apalah daya semua sudah terjadi, dan hati ini pun serasa terbakar bara cemburu meski itu tak layak. Andai waktu bisa berbalik, maka aku lebih memilih untuk tidak keluar dan melihat semua itu. Tapi mungkin ini juga merupakan sebuah petunjuk agar aku sadar bahwa ini adalah sebuah kenyataan. Untuk melihat sebelum jauh rasa itu, maka lebih baik sakit saat ini dari pada nantinya lebih parah dari ini.
Mungkin ibarat langit dan bumi jika aku masih memaksakan perasaan ini. Karena sesungguhnya aku tak panas baginya. Aku ibarat pungguk yang merindukan bulan. Sudah jelas dari awal bahwa dia tak merespon, tapi mengapa aku masih tetap berdiri tegar. Seolah- olah mampu tuk melewati semua itu, dan kini semua itu terjawabkan. Kini aku pun merasakan sakit yang sudah aku duga dari awal bahwa akhirnya akan seperti ini jika aku terus melangkah.
Aku tak menyalahkan perasaan ini, hanya saja mulai saat ini aku harus lebih banyak bercermin untuk intropeksi siapa sebenarnya aku baginya. Mungkin hanya keadaan saja yang salah dan waktu belum tepat untuk hal- hal seperti ini. Jika memang dia untuk ku, semoga perjalan ini di permudah, namun jika tidak, mungkin aku akan mendapat petunjuk yang lebih sakit lagi dari ini jika aku terus melangkah.
Aku sebenarnya hanya pura- pura kuat dalam situasi ini, karna memang pada dasarnya aku memang bukan siapa- dan tak akan pernah menjadi siapa- siapa. Semoga atas kejadian ini, aku lebih bersabar dan mencoba tuk melupakan semua yang telah terjadi. Aku akan berusaha ikhlas jika memang ini yang terbaik. Semoga jikalau dia mendapatkan yang terbaik aku pun seperti itu. Aku tak akan berlebihan dalam masalah ini, dan aku akan menetralisir rasa ini meski sulit. Namun ntah lah aku pun tak tau mengapa semua serasa berat tuk aku lupakan. Namun, seberat dan sesusah apa pun itu, akau akan mencoba dan terus mencoba agar aku lebih kuat kedepannya.
Good by my prince semoga setelah ini aku tak merasa kecewa lagi dengan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi.
Dan akhirnya kini aku kecewa lagi mengulang kisah 3 tahun yang lalu. Aku yang salah karna membiarkan rasa ini tumbuh. Mengaharapkan yang lebih dari sebuah persahabatan ini. Dan aku telah mengingkari hati ku sendiri untuk tidak mengganggapnya lebih dari seorang sahabat. Semoga ada hikmah dan aku bisa move on.
Belajar ikhlas memang tak mudah, tapi demi kenyamanan hati ini dan kebahagiaan mu, akan ku coba. Semoga kamu tak merasa terganggu dengan tingkah dan sikap alay ku selama ini. Aku akan mencoba menetralisir demi kebaikan bersama. Semoga kita sama- sama mendapat yang terbaik dunia akhirat nantinya. By by,,,,,,,,,,,,
AKU YANG SALAH KARNA MEMPUNYAI RASA KEPADA SESEORANG YANG BELUM HALAL UNTUK HIDUPKU.



Yang tak teranggap

                                                                                   (princess) 

Jumat, 10 Januari 2014

MAKALAH ORIENTALISME


SEJARAH MUNCULNYA ORIENTALISME

A.    PENDAHULUAN
Secara pasti sulit menentukan kapan sebenarnya timbul orientalisme itu. Para ahli pun berbeda-beda pendapat mereka. Ada yang berpendapat bahwa timbulnya orientalisme itu adalah  mempunyai ikatan waktu antara minat orang-orang Eropa dalam mempelajari kebudayaan Arab dan Islam di Eropa dengan ketamakan orang-orang Eropa sendiri hendak menguasai dunia Arab dan Islam pada akhir abad ke 18. Di saat kerajaan Turki Usmani menguasai sebagian besar negara-negara Arab dalam keadaan lemah.
Ada pula yang berpendapat dimulai dari serbuan ekspedisi Perancis ke Mesir pada tahun 1798. Pendapat ini dapat dikatakan adalah permulaan orientalisme yang sebenarnya dan positif. Hal ini terbukti ketika penyerbuan tersebut armadanya membawa para ahli pengetahuan, yang di tugaskan khusus untuk menyelidiki dan mempelajari bermacan-macam bidang ilmu pengtahuan khususnya tentang kebudayaan Timur.
Orientalisme memang dimulai sejak beberapa abad yang lalu yaitu pada abad ke 18 M. Tetapi dasar-dasar daripada Orientalisme itu sendiri telah tumbuh pada masa-masa Islam pertama, terutama pada saat jayanya Islam di Andalusia. Karena pada waktu itulah mahasiswa-mahasiswa Eropa mulai menyelidiki dan mempelajari tentang Islam dan kudayaan Timur. Disaat orang-orang Arab muslim menguasai semenanjung Liberia, yaitu Andalusia, sebagian negara Perancis, Itali, Cicilia dan beberapa pulau di laut Tengah.
B.     PEMBAHASAN
           1.  Pengertian Orientalisme
Orientalisme dalam kamus Bahasa Indonesia adalah ilmu pengetahuan tentang ketimuran atau tentang budaya ketimuran. Sementara itu dalam buku “Bubust Fi at Tabsyir Wa al Istisyraq” (Pembahasan Tentang Misionarisme dan Orientalisme) karangan Dr. Hasan Abdul Rauf, disebutkan bahwa kata “Orientalisme” secara umum diberikan kepada orang-orang non-Arab yang mempelajari ilmu-ilmu tentang ketimuran, baik itu dari segi bahasa, agama, sejarah, dan adat istiadatnya. Orang yang mempelajari ilmu itu disebut Orientalisme. Khususnya orang-orang yang mempelajari tentang dunia Arab, China, Persia, dan India.[1]
Orientalisme adalah suatu pengetahuan tentang perihal ketimuran yang penting kita ketahui. Karena karena di samping nila-niai positif yang terkandung di dalamnya juga terdapat nilai-nilai yang negatif. Nilai-nilai yang negatif itu merupakan racun berbisa dalam usaha melumpuhkan Islam dengan paham yang dapat menggoyahkan keimanan kaum muslimin terhadap Al-Qur’an, Rasul, Wahyu dan lain-lain.[2]
Secara bahasa orientalisme berasal dari kata “orient” yang artinya “timur”. Secara secara etnologis orientalisme bermakna “bangsa-bangsa timur”, dan secara geografis bermakna “hal-hal yang bersifat timur, yang sangat luas ruang lingkupnya.” Orang yang menekuni dunia ketimuran ini disebut orientalis. Menurut grand Larousse Encyclopedique seperi dikutip Amien Rais. Orientalis adalah sarjana yang menguasai masalah-masalah ketimuran, bahasa-bahasanya, kesusastraannya, dan sebagainya. Karena itu orientalisme dapat dikatakan merupakan semacam prinsip-prinsip tertentu yang menjadi ideologi ilmiah kaum orientalis.
Kata ”isme” menunjukkan pengertian tentang suatu paham. Jadi, orientalisme bermakna suatu paham atau aliran yag berkeinginan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa timur beserta lingkungannya.Menurut M.Amien Rais yang mengutip dari Grand Larousse Encyclopedique mendefinisikan orientalis sebagai “sarjana yang menguasai masalah-masalah ketimuran, bahasa-bahasanya, kesusastraannya, dan sebagainya” karena itu, orientalisme bisa dikatakan merupakan semacam prinsip-prinsip tertentu yang menjadi ideologi ilmiah kaum orientalis. Memang tidak ada salahnya sarjana-sarjana Barat mempelajari masalah-masalah ketimuran, termasuk masalah keislaman, asalkan penyelidikan mereka didasarkan kepada sendi-sendi imiah yang benar dan bertujuan untuk mencari kebenaran. Akan tetapi, tujuan asasi dunia Barat dengan orientalismenya itu adalah untuk menguasai dan menjajah Timur, walaupun mungkin saja disertai rasa ingin tahu tentang kebudayaan lain.[3]
Muslimdailydalam buku Ensiklopedi Islam, orientalisme didefiniskan sebagai pemahaman masalah-masalah  ketimuran. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis, “orient” yang berarti timur atau bersifat timur. “Isme”  berarti paham, ajaran, sikap  atau cita-cita.
Secara analitis, orientalisme dibedakan atas: (1) keahlian mengenai wilayah timur (2) metodologi dalam mempelajari masalah ketimuran, dan (3) sikap ideologis terhadap masalah ketimuran, khususnya terhadap dunia Islam.
             2.   Awal Mula Orientalisme
Pembahasan tentang asal mula Orientalisme, sebenarnya masih menjadi persilisihan oleh para peneliti sejarah Orientalisme. Dan tidak diketahui secara pasti siapa orang Eropa pertama yang mempelajari tentang ketimuran dan juga tidak ada yang mencatat kapan terjadinya. Kemungkinan pendapat terbanyak, menurut Dr. Hasan Abdur Rauf bahwa Orientalisme dimulai dari Andalusia (Spanyol) di abad 17 H, ketika tekanan Kristen Spanyol kepada masyarakat Islam disana memuncak. Raja Alfonso penguasa Kristen di profinsi Castilla saat itu, memanggil Michael Scott untuk mempelajari ilmu-ilmu Islam dan peradabannya. Kemudian scott mengumpulkan sekelompok pendeta dari berbagai gereja dekat kota Toledo untuk membantu tugas-tugasnya.[4]
Pendapat lain mengatakan, Orientalisme dimulai ketika beberapa pendeta dari Barat datang ke Andalusia (Spanyol) saat kerajaan Islam itu berada dipuncak kejayaannya. Kemudian mereka mempelajari berbagai ilmu Islam disana. Menterjemahkan Al Qur’an dan buku-buku berbahasa Arab kedalam bahasa mereka, tak ketinggalan mereka juga berguru kapada para ulama-ulama Islam yang ada di Andalusia waktu itu dari berbagai disiplin ilmu. Khususnya ilmu Filsafat, Kedokteran, dan Matematika. Dua pendapat di atas sepertinya tidak banyak berbeda dan kita sepertinya tidak perlu terlalu jauh untuk mempermasalahkannya.
Adapun beberapa orang pendeta yang datang ke Andalusia saat itu, antara lain:
a.       Gerbert, seorang pendeta dari Perancis atau lebih dikenal dengan gelar kepausannya, Sylvester II, yang terpilih menjadi Paus Roma pada tahun 999 M dan berkuasa sampai tahun 1003 M. Ia terpilih sekembali ke negaranya setelah belajar dari berbagai sekolah di Andalusia.
b.      Pendeta Petrus yang mulia (1092-1156 M).
c.       Pendeta Gerrad Kremmen (1114-1187 M).
Memasuki Abad ke-18 yang merupakan abad permulaan Barat menjajah negeri-negeri Islam dan menguasai sumber kakayaannya. Dengan jumlah ilmuan Barat yang tak sedikit, mereka menjadikan kajian tentang dunia Timur sebagai suatu keharusan. Di awal abad ke-19 saja tercatat ada sekitar 250.000 jilid buku, dan itu terus berlangsung sampai hari ini. Di penghujung abad ke-19 tepatnya tahun 1873 M, di Paris berlangsung muktamar pertama untuk para Orientalisme.
            3.      Sebab-Sebab Munculnya Orientalisme
Ada banyak hal yang menjadi penyebab lahirnya Orientalisme menurut para peneliti dunia ketimuran. Tetapi penting untuk kita ketahui kiranya adalah sebab-sebab utama dan faktor pendukung munculnya Orientalisme.
     a.    Faktor Agama.
        Seperti yang telah di jelaskan di atas, bahwa Orientalisme dimulai dari pendeta-pendeta kemudian menjadi kelompok besar Orientalis, yang kesemuanya bertujuan untuk merusak eksistensi Agama Islam, mengaburkan otensitasnya dan memutarbalikan kebenarannya. Sambil terus meyakinkan  kepada orang-orang yang mengikutinya bahwa Islam adalah agama yang jauh dari kemajuan, kotor, kasar, dan sumber teroris.[5]
Ketika Islam berkembang dengan pesatnya dan dalam masa satu abad kekuasaannya telah melintasi jazirah Arab. Afrika Utara dan sampai Spanyol serta negara-negara Eropa lainnya.[6]Sebelumnya orang-orang Eropa berprasangka buruk, bahwa orang Islam dan orang-orang Arab sangat kejam dan bengis. Penyiaran agama disebarkan dengan pedang dan dengan kekerasan. Sangkaan ini rupanya meleset. Orang-orang Islam dan Arab mempunyai akhlak yang tinggi dan mulia. Penuh keadilan dan teleransi terhadap pemeluk-pemeluk agama lain. Rakyat Spanyol yang beragama Kristen diberikan kebebasan memeluk agamanya. Walaupun negara tersebut telah dikuasai oleh orang-orang Arab.
Di antara kaum Orentalis yang terkemuka, pada generasi pertama dari perkembangan Orientalisme ialah: (1) Jebert de Oralic (938-1003), seorang pendeta Katolik yang pergi ke Andalusia dan belajar pada perguruan-perguruan tinggi Islam di Cevilla dan Cordova. Sehingga ia terkenal seorang yang pandai dalam bahasa Arab, ilmu pasti, dan ilmu falak. Kemudian ia diangkat menjadi Paus  (999-1003) dan menjadi paus pertama dari bangsa Perancis. (2) Dicuil, namanya sangat gemilang dalam tahun 1125. Ia seorang Islandia, berkunjung ke Mesir. Menyelidiki tentang piramid dan keadaan keislaman di Mesir. (3) Pierre le Venerebble (1094-1156). Seorang pendeta Perancis. Ia ke Analusia menambahkan pengetahuannya. Kemudian ia kembali kenegerinya mengembangkan kebudayaan Arab. Dan menyusun buku-buku untuk menentang orang Islam dan Yahudi. (4) Danial of Morly. Mulanya ia belajar di Oxford dan Paris. Ia tidak merasa puas dengan universitas-universitas Barat. Lalu berangkat ke Andalusia. Namanya terkenal antara tahun 11170-1190. (5) Gerard de Cremona (1111-1187) pendeta Halia. Menuju ke Toledo Andalusia, untuk memperdalam bahasa Arab. Ia telah menyalin tidak kurang dari 87 buku bahasa Arab tentang falsafah, kestabilan, ilmu pasti, dan ilmu falak ke dalam bahasanya sendiri. Diantaranya, ia telah menyalin: Rasail Al-Kindi fil ‘aqli wal ma’qul, Ihshul ‘ulum karangan Al-Farabi dan Al-Qanun fifthib karangan Ibnu Sina. (6) Michael Scott dari pendeta Scotland dan lain-lain.[7]
       b.     Kolonialisme
Setelah kekalahan Barat yang menyakitkan di perang Salib, akan tetapi ternyata kebencian mereka pada umat ini tidak penah sirna. Mereka jadi berfikir dua kali, jika harus melawan Islam dengan kekuatan senjata. Lalu Kristen Barat pun merubah metode mereka untuk menaklukkan Islam dengan pemikiran atau yang biasa disebut dengan istilah ‘invansi pemikiran’.
Metode ini dilakukan atas wasiat Raja Louis dsri Perancis, pemimpin Nasrhani pada perang Salib ke delapan yang berakhir dengan kekalahan. Bahkan Raja Louis sendiri berhasil ditawan oleh pasukan Islam di provinsi Mansurah, Mesir. Untuk keluar dari tawanan itu Raja Louis harus membayar upeti yang sangat besar. Sekembalinya ke Perancis, Louis memiliki keyakinan bahwa kekuatan militer dan senjata terbukti tidak membuat Islam gentar.Maka dipelajarilah segala sesuatu yang berkaitan dengan negeri yang akan mereka taklukan, mulai dari agama, budaya sampai kekayaannya. Di sinilah kaum Intelektual Barat (Orientalis) berperan.
      c.       Faktor Politik
Setelah negeri-negeri yang terjajah di Timur merdeka dari cengkraman kolonialis, ada target lain yang menjadi incaran negara-negara penjajah yaitu meletakkan kedutaan atau konsulat-nya dibekas negara jajahannya. Tujuan dari itu adalah untuk memata-matai aktivitas politik negara tersebut lewat jasa intelejen yang mereka buat, dengan begitu memudahkan mereka untuk mengoalkan tujuan-tujuan politiknya semacam isu teroris dan penguasaan informasi. Sedangkan kaum Intelektualnya atas nama duta negara mempelajari agama dan kebudayaannya.
Dari sinilah mereka mempergunakan para Orientalisme untuk menyelidiki tentang keadaan negara-negara Timur baik berupa Agama, kebudayaan, ekonomi, politik dan lain-lain.Disamping itu, para pemuka-pemuka agama Kristen selalu menghasut rakyat Eropa untuk melepaskan Baitul Maqdis dari tangan kaum muslimin, dengan semboyan perang suci. Inilah diantara sebab-sebab penting yang menyebabkan terjadinya perang Salib 1 tahun 1096. [8] Negara-negara di Eropa bersatu untuk menyerang kaum muslimin di Jerussalam. Sebenarnya ini adalah perang penjajahan yang berkedok agama, mulanya bernama Holy War (Perang Suci) kemudian berubah menjadi Crusade (Perang Salib). Pada hakikatnya ini adalah jalan untuk kekerasan di atas Benua Timur Islam, dimana di sana terdapat kekayaan ekonomi dan hasil perdagangan yang tinggi.
      d.      Faktor Ekonomi
Dari sekian faktor yang ada, faktor ekonomi merupakan faktor yang paling kuat untuk melahirkan Orientalis. Karena dengan menguasai ilmu ketimuran lewat para cendekiawannya, Barat dengan mudah memiliki data kekayaan negei-negeri yang ada di Timur. Maka bukan hal aneh jika negara adidaya seperti Amerika begitu bernafsu menduduki negara-negara Timur dan Arab seperti Irak dan Afganistan. Selain faktor kekuasaan mereka menyimpan misi untuk menguasai kekayaan, tetapi sebenarnya tujuan yang lebih jauh dari itu adalah menguasai pasar dunia.[9]
      e.       Faktor Ilmu
Ilmu pengetahuan Islam hal utama yang dibidik para Orientalisme untuk mengusai umat ini. Jelas misi utama mereka mempelajari ilmu-ilmu Islam bukan untuk mencari kebenaran, tetapi memutar balikan fakta dan menghembuskan berbagai syubhat agar kaum muslimin ragu pada agamanya. Memang diantara para kaum Orientalis itu ada  sebagian yang berfikir Obyektif tentang Islam dan ada beberapa orang yang akhirnya memeluk Islam. Beberapa karya Orientalis juga menyebar di negara-negara Timur Tengah dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, serta diizinkan oleh ulama setempat untuk dipelajari dengan tetap bersikap kritis. Seperti buku “Tarikh Mazahib at-Tafsir al-Islamy"(Sejarah Mazhab-Mazhab Tafsir) karangan Orientalis ternama, Goldziher.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa orang-orang Eropa sejak abad ke XI giat mempelajari bahasa Arab dan pengetahuan Islam serta peradabannya di Andalusia (Spanyol). Samapi sirna agama Islam dengan jatuhnya Granada tahun 1492. Setelah itu mereka berkisar ke negara-negara Timur.Memang banyak orang-orang Barat (Orientalis) yang memperdalam bahasa Arab dan kemudian menjadi orang yang ahli dalam bidang nahwu, sharaf, adab (sastra) dan balaghah, kemudian ada pula yang mempedalam di segi aqidah dan syari’ah.Tapi sangat disayangkan segala ilmu pengetahuan yang telah mereka peroleh, bukanlah untuk menimbulkan keyakinan mereka terhadap Islam tapi pada umumnya adalah dijadikan alat untuk memusuhi Islam sendiri dengan kedok selubung ilmiyah, scientific research. Karena perasaan iri hati, aqidah dan syari’ah Islam yang murni mereka bumbui dengan keterangan-keterangan yang bathil yaang dapat meragukan dan mengaburkan hakekat Islam itu sendiri. Sehingga kadang-kadang dapat menggoyahkan keyakinan umat Islam terhadap agamanya di satu pihak dan sifat antipati rakyat Eropa serta perasaan benci kepada Islam di lain pihak. 

C.     KESIMPULAN
Memasuki Abad ke-18 yang merupakan abad permulaan Barat menjajah negeri-negeri Islam dan menguasai sumber kakayaannya. Dengan jumlah ilmuan Barat yang tak sedikit, mereka menjadikan kajian tentang dunia Timur sebagai suatu keharusan.Di penghujung abad ke-19 tepatnya tahun 1873 M, di Paris berlangsung muktamar pertama untuk para Orientalisme.Bahwa dari sejarah orientalisme itu ada beberapa faktor yang mendorong munculnya orientalisme dan dimulai dari Perang Salib yang berawal dari konflik yang terjadi antara Islam-Kristen di Palestina (Jerussalem).



DAFTAR PUSTAKA


Abidin Ja’far. Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab. Yogyakarta: Bina Usaha, 1987.

Amien rais. Cakrawala Islam. Bandung: Mizan, 1996.

Muhammad Yasin, “Sejarah Orientalisme sebuah Pengenalan Singkat”dalam majalah Media Dakwah. Jakarta: Media Dakwah, 2006), edisi 369.













[1] Muhammad Yasin, “Sejarah Orientalisme sebuah Pengenalan Singkat”dalam majalah Media Dakwah, (Jakarta: Media Dakwah, 2006), edisi 369, hlm. 45. 
[2] Abidin Ja’far, Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1987), hlm. 1.
[3]Amien Rais, Cakrawala islam, (Bandung: Nizam, 1996),  hal. 234.
[4]Muhammad Yasin, “Sejarah Orientalisme sebuah Pengenalan Singkat”, hlm. 45.
[5] Muhammad Yasin, “Sejarah Orientalisme sebuah Pengenalan Singkat”, hlm. 46.
[6] Abidin Ja’far, Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1987), hlm. 10.
[7] Abidin Ja’far, Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1987), hlm. 12.
[8] Abidin Ja’far, Orientalisme dan Studi tentang Bahasa Arab, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1987), hlm. 15.
[9] Muhammad Yasin, “Sejarah Orientalisme sebuah Pengenalan Singkat”, hlm. 46.

Selasa, 02 Juli 2013

jembatan beatrix

                               Sejarah Penamaan Jembatan Ratu Beatrix Sarolangun
 

SAROLANGUN – Sebuah jembatan unik, dengan khas eropa masih terlihat berdiri kokok di tengah kota sarolangun, meski tidak jadi penghubung utama lagi, karena telah ada jembatan baru, namun sebuah jebatan yang saat ini dikenal dengan nama “beatrix” malah jadi pilihan wisata kota yang cukup berkesan di sore hari. Yang jadi pertayaan dari mana asal penamaan jembatan tersebut, berikut penelusuran jambi Independent.

Dari cerita mulut ke mulut para tetua Sarolangun, konon, jembatan yang saat ini dikenal dengan sebutan jembatan Beatrix tersebut, dibangun sekitar tahun 1923 oleh pemerintah kolonial Belanda yang kala itu berkuasa, dengan melalui kerja rodi, menghubungkan langsung dua desa yang bersebarangan Desa Sri Pelayang dengan Kelurahan Pasar Sarolangun, dengan panjang sekitar 100 meter.

Dari Sari, keterangan salah satu sfat Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sarolangun, dietahui jika jembatan dengan konstruksi beton yang ditopang tiga tiang penyangga, dengan empat ruas jembatan menyatu, tidak terlalu banyak didukung dengan literatur sejarah, namun masalah penamaan, para sejawaran sarolangun berkesimpulan penamaan “Beatrix” berkemungkinan diambil dari nama salah satu ratu belanda yang lahir tahun 1938.

Bisa jadi penamaan jembatan tersebut, merupakan hadiah atas lahirnya putri Beatrix Wilhelmina Armgard, yang tidak lian anak dari Putri Mahkota Juliana dari Belanda dan Pangeran Bernhard, yang lahir tahun 1938, setahun sebelum jembatan sarolangun diresmikan.

Hal ini diperkuat dengan adanya prasasti kala peresmian jembatan tahun 1939, dimana ada tugu batu sejenis marmer yang bertuliskan “Beatrix Brug”, pangkal jembatan dari arah pasar bawah Sarolangun.

Adnan Sulaiman, salah satu warga kota sarolangun, bertutur, sejak sekitar tahun 1982 Jembatan sempat mengalami dan tidak terawat, namun bergulirnya pemekaran kabupaten sarolangun jembatan bersejarah ini kembali diperbaiki dan dipercantik dengan cat berwarna kuning gading menjadi objek wisata sejarah dan salah stu tempat tongkorngan warga kota melepas penat melihat arus sungai yang tenang atau sambil memancing di Sungai Tembesi yang mengalir dibawahnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah R


aga Kabupaten Sarolangun, mengakui jika jembatan ini, saat ini sudah terinvetarisir sebagai salah satu objek wisata sejarah di kota sarolangun. “Buka itu saja, kita juga telah beberapa kali menganggarkan dana untuk perbaikan dan perawatan jembatan sehingga tetap terlihat cantik dan enak dilihat,”sebutnya.

SEJARAH

SEJARAH SAROLANGUN
Setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia dicetuskan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, kota Sarolangun yang pernah menjadi basis patrol Belanda menjadi bagian dari Kabupaten Jambi ilir (Timur) dengan pusat pemerintahannya berkedudukan di Jambi dengan Bupatinya pada masa itu adalah M. Kamil. Pada tahun 1950 sampai Jambi menjadi Propinsi tahun 1957, Sarolangun menjadi kewedanaan bersama kota-kota lainnya yaitu Bangko, Muaro Bungo, dan Muaro Tebo yang tergabung dalam Kabupaten Merangin dengan Ibukotanya semula berkedudukan di Jambi yang selanjutnya berpindah ke Sungai Emas Bangko. Sejak saat itu, Kota Sarolangun menjadi Kewedanaan selama kurang lebih 20 tahun. Selanjutnya dimulai dari tahun 1960 berdasarkan hasil sidang pleno DPRD Kabupaten Merangin dipecah menjadi dua Kebupaten, yaitu Kabupaten Sarolangun Bangko dan Kabupaten Bungo Tebo. Maka sejak saat itu kewedanaan Sarolangun secara resmi menjadi bagian wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Sarolangun Bangko dengan ibukotanya Bangko. Melalui Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1999 secara yuridis formal Kabupaten Sarolangun resmi terbentuk.
 Selanjutnya diperkuat dengan Keputusan DPRD Propinsi Jambi Nomor : 2/DPRD/99 Tanggal 9 Juli 1999 Tentang Pemekaran Kabupaten di Propinsi Jambi menjadi 9 Kabupaten dan 1 Kota. Atas dasar kebijakan tersebut, maka pada tanggaln 12 Oktober 1999 Kabupaten Sarolangun resmi menjadi daerah otonom dengan Bupati Pertama 1999 - 2001 adalah H. Muhammad Madel (Care Taker). Kemudian berdasarkan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati melalui DPRD Kabupaten Sarolangun Tahun 2001 terpilih Bupati dan Wakil Bupati H. Muhammad Madel, dan H. Maryadi Syarif. Saat ini setelah dilaksanakannya pemilihan umum secara langsung pada bulan Juli 2006 yang merupakan pemilu lansung pertama bagi Kabupaten Sarolangun maka terpilihlah H. Hasan Basri Agus dan H. Cek Endra sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sarolangun terpilih periode 2006 – 2011. Berdasarkan Hasil Pemilukada Tahun 2011 maka terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati periode 2011 - 2016 adalah H. Cek Endra dan Pahrul Rozi.
Dalam rangka melengkapi kelembagaan pemerintahaan dan birokrasi publik dan sebagai Kabupaten Pemekaran, maka lembaga Legislatif Kabupaten Sarolangun DPRD pada awal berdirinya masih merupakan bagian dari DRPD Kabupaten  Sarolangun Bangko (Sarko). Pemisahan lembaga Legislatif Kabupaten Sarolangun dibentuk bersamaan dengan dasar Undang – Undang Nomor 54 Tahun 1999 dan selanjutnya disempurnakan kembali melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2000 dengan jumlah anggota DPRD sebanyak 25 orang.
Pada awal berdirinya Kabupaten Sarolangun terdiri dari 6 (enam) Kecamatan, 107 Desa, 4 Kelurahan dan 2 Desa Unit Pemukiman Transmigrasi dan saat ini tahun 2013 sudah menjadi 10 Kecamatan, 9 kelurahan, dan 149 Desa.

Selasa, 21 Mei 2013

puisi


Ibu Adalah Sahabat Pertamaku

Kau ajarkan aku tentang cinta
Cinta pertama dalam hidupku
Sejak aku di alam kandunganmu
Sejuta kasih kau suap di mulutku

Kau adalah sosok sahabat tiada tara
Pengorbananmu tak mampu kuucap
Dengan kata-kata.

Pahlawan pertamaku dalam nafasku
Nyawaku terlindung berbalut cintamu

Tiada tara
Tiada kata
Itulah pengorbananmu
Tak bisa menceritakan tentang kisahmu

Ibuku.
Kaulah sahabat Cintaku
Mengalir kasih pertamaku
Doaku menyertaimu.

Bersinar kau bagai cahaya..
Yang selalu beriku penerangan..
Selembut sutra kasihmu kan..
Slalu kurasa dalam suka dan duka...
Kau Lah Ibuku.. Cinta.. Kasihku..
Pengorbananmu takkan pernah terganti..

Kau bagai matahari yang selalu bersinarr..
Sinari hidupku dengan kehangatanmu..
Kaulah Ibuku cinta kasihku..
Terima kasihku takkan pernah terhenti..
Bunda

Bunda.. aku lihat kau begitu cantik hari ini..
Dengan semua gurat perjuangan diwajahmu..
Perjuangan menjagaku.. melindungiku.. menyayangiku.. mendidikku

Aku bingung Bunda.. harus dengan apa aku membalas semua itu..
hmmm, gmn ya ????

lagi lagi aku hanya bisa mencium dan memelukmu saja, Tapi...
Bunda.. semoga kecupan dikeningmu pagi ini..
dan pelukan hangat didinginnya pagi ini..
bisa membuat BUNDA tau.. klo aku sangat menyayangi BUNDA..

Dihati ini Bunda.. walau dengan sgala keterbatasan kemampuan..
Untuk membahagiakanmu..
Ketahuilah Bun, ada rasa yang begitu kuat untuk bisa melihat Bunda..
Mendapatkan kebahagiaan yang begitu sempurna..
Merasakan ketulusan kasih sayangku...
Merasakan Cintaku untuk mu BUNDA..
Merasakan Luapan hati yang penuh dengan ucapan..
Terima kasih.. Terima kasih.. Terima kasih Bunda..

Ku Cinta Kamu.. Bunda...

catatan harian Ku